Menurunnya Popularitas Kopi Peram

Kopi peram banyak menimbulkan kontroversi dikalangan penikmat kopi. Banyak yang mengatakan, memeram biji kopi akan mengurangi kadar keasamannya. Sedang yang lain mengatakan, memeram biji kopi membuat kopi berasa menjadi kurang enak. Biji kopi monsooned (biji kopi terekspose angin monsum) dari India merupakan salah satu jenis kopi peram. Pada faktanya, “moonsoned” merupakan cara untuk memeram kopi. Biji kopi monsooned disimpan sedemikian rupa sehingga angin monsun membuat mereka kering.Dengan demikian, hasilnya berupa biji-biji kopi yang tampak berwarna coklat muda.

 

 

Ada orang-orang yang menyukai rasa kopi peram. Menikmati kopi adalah perkara subjektif, dan tentu saja akan ada orang-orang yang menggemari rasa kopi peram, biji-biji yang telah diperam adalah yang mereka inginkan.

Pemerapan kopi merupakan suatu proses yang telah mengalami sejarah panjang. Ketika biji kopi pertama kali diperkenalkan ke Eropa, cara pengirimannya tentu berbeda dengan cara pengiriman modern yang telah melewati masa 400 tahun. Tentu saja pada masa lampau, biji-bijian itu diperam secara alamiah selama proses transportasi. Banyak biji kopi yang bahkan harus menempuh perjalanan darat dan diangkut dengan menggunakan unta, dibungkus dengan kulit kambing.

Biji kopi juga diperam dengan sengaja di banyak negara. Hal  ini merupakan suatu praktek yang umum. Masalahnya, penikmat kopi era modern lebih menyukai biji-biji kopi segar. Hal ini dikarenakan pengiriman yang lebih modern mampu mengirimkan biji kopi dengan lebih cepat sehingga konsumen selalu menerima kopi dalam bentuk segar. Sebagai konsekuensi, biji kopi peram kehilangan permintaannya di pasar modern.

Ada juga biji kopi yang disebut  old coffee. Kopi jenis ini berbeda dengan biji kopi peram. Biji old coffee adalah biji-biji kopi yang gagal dijual. Kebanyakan, mereka tidak disimpan dalam gudang yang dirancang khusus untuk pemeraman melainkan di dalam gudang yang didesain untuk pergudangan sementara, dimana stok cepat bertukar. Dengan demikian, biji old coffee menyerap rasa pengap ketika diletakkan dalam gudang yang lembab berkabut tersebut. Biasanya parchment  (kulit ari kopi) mempertahankan kopi dari serangan seperti itu, namun  lapisan parchman itu terlanjur dibuang karena mengalami gagal jual. Karena kopi tumbuh di daerah beriklim tropis, gudang-gudang lembab adalah tempat yang sering dijumpai.

Pertimbangan yang kedua adalah bagaimana biji-biji kopi itu disimpan. Pada umumnya, biji-biji disimpan dalam keadaan masih dilapisi parchment sampai mereka dijual. Lalu biji kopi itu digiling dan lapisan parchment kemudian dibuang. Setelah lapisan parchment dibuang, biji kopi itu dikeringkan, dikemas, dan dikirim. Sering dikatakan bahwa biji old coffee adalah biji yang terlalu lama disimpan dengan parchment yang telah di buang. Sedangkan biji-biji diperam adalah yang disimpan dengan masih terbungkus parchment.

Sejauh pertimbangannya adalah waktu, baik biji peram atau pun old coffee merupakan hal yang sama, keduanya tidaklah segar. Namun bila rasa yang menjadi pertimbangan, ada perbedaan yang besar antara biji kopi peram, biji old coffee, dan biji kopi segar. Pembeli biji green coffee  mempunyai tiga macam tipe citarasa yang berbeda untuk dipilih. Dan semuanya kembali pada selera masing-masing.

Sumber : rumahkopi.com

Last Updated on Friday, 22 August 2014 01:25